| |
Hal terbaik yang diperoleh dari usaha Jasa Katering adalah kepuasan pelanggan dan tidak mengakibatkan bau yang bisa mengganggu lingkungan sekitar. Dari pengalaman beberapa pelaku usaha Jasa Katering yang terjadi adalah timbulnya bau yang mengakibatkan warga sekitar mempersoalkan keberadaan usaha tersebut. Tentunya hal ini mengganggu kenyamanan dan kelancaran dalam berusaha. Sumur resapan dan sumur untuk pembuangan air limbah proses pencucian sudah dibuat. Cara yang lazim dilakukan adalah dengan membuat septic tank-septic tank. Mengapa di kemudian hari timbul bau? Kemampuan bakteri pengurai untuk mendegradasi (menguraikan) limbah semakin lama semakin berkurang seiring dengan kapasitas produksi Jasa Katering yang ditandai dengan banyaknya pesanan. Solusi sederhana adalah memperbesar ukuran bak atau sumur septic tank tersebut. Tetapi hal ini belumlah cukup karena kualitas limbah yang dihasilkan berbeda dibandingkan dengan limbah rumah tangga biasa karena adanya limbah lemak hasil dari pencucian daging sapi, ayam, kambing maupun ikan laut. Sistem pembuangan limbah perlu disempurnakan dan kualitas serta jumlah bakteri pengurai harus ditambah agar sistem penguraian berjalan sempurna sehingga tidak menimbulkan bau yang mengganggu bahkan bisa bermanfaat. Jika kedua hal tersebut diatas tidak dilakukan maka sistem penguraian akan terganggu dan berjalan lamban. Akibatnya adalah timbul bau menyengat dan saluran menjadi tersumbat akibat menempelnya lapisan lemak yang makin tebal. Hal tersebut bisa saja dicuci dengan larutan berbahan kimia. Efek yang pasti terjadi jika menggunakan bahan kimia adalah kemungkinan rusaknya saluran PVC atau matinya bakteri sehingga penguraian terhenti dan timbul bau.
BSL MW-01Isi: 1 (satu) Liter.Cukup dituang ke Bak Kontrol dan Bak Penampung dan setiap karyawan bisa melakukan. *Clients: Katering NIA Cimanggis
Cara Kerja MW-01BSL MW-01 akan menguraikan atau mendegradasi limbah dari Bak Kontrol. Fungsi Bak Kontrol adalah menyaring lemak dan mereduksi (menguraikan) lebih awal limbah dari cucian atau yang lain sebelum masuk ke Bak Penampung I. Biasanya digunakan jaring dari kawat untuk menyaring lemak dan bisa diganti tiap hari kemudian bisa digunakan kembali setelah dibersihkan. Dari Bak Kontrol proses berjalan menuju ke Bak Penampung I. Di dalam Bak Penampung I ditambahkan BSL MW-01 untuk menambah jumlah bakteri. Hal ini karena kemampuan bakteri di Bak Kontrol sudah menurun dan kualitas air limbah masih cukup tinggi walaupun tidak setinggi pada awalnya. Proses penguraian berlangsung dengan tingkat kandungan lemak yang sudah lebih rendah. Hasilnya adalah air limbah dari Bak Penampung I menjadi lebih jernih, kemudian mengalir dan diproses ke Bak Penampung II. Di dalam Bak Penampung II limbah kembali teruraikan sehingga air limbah yang terproses menjadi lebih jernih. Proses dilanjutkan lagi dengan mengalirkan air limbah dari Bak Penampung II menuju Bak Penampung III. Bakteri pengurai bekerja lebih mudah untuk menguraikan air limbah yang berasal dari Bak Penampung II. Hasil air limbah di Bak Penampung III keluar menuju ke Sumur Resapan dan langsung bisa dimanfaatkan sebagai pupuk cair. Pemanfaatannya bisa digunakan langsung untuk menyiram tanaman hias atau dengan dialirkan lagi dan ditampung dalam sebuah Kolam untuk dimanfaatkan sebagai Kolam Ikan. Bisa ditambah dengan ditanami sayuran air seperti kangkung atau tanaman hias. Hal ini akan menjadi nilai tambah sekaligus bisa dimanfaatkan untuk produksi Jasa Katering atau dimanfaatkan sebagai taman di lingkungan penduduk. Aturan PakaiTuangkan MW-01 ke Bak Kontrol, Bak Penampung I, Bak Penampung II dan Bak Penampung III. Ulangi pemakaian tiap 2 - 3 minggu sekali.
|
||||||
| Up | |||||||
| ©2007 - B S L | developed & designed by Budi Purnomo | www.bsl-online.com |