BUDIDAYA SORGUM YANG BAIK DAN BENAR
SIHONO
Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR),
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)
Jl. Cinere, Pasar Jumat, Jakarta Selatan 12070
Tel: 021-7690709, Fax: 7691607, 7513270
e-mail: sihono@batan.go.id
RINGKASAN
Sorgum (Sorghum bicolor L. mocnch) telah lama di budidayakan dan dikenal petani Indonesia khususnya di Jawa, NTB dan NTT, biasa ditanam oleh petani sebagai tanaman sela atau tumpang sari dengan tanaman pangan lainnya. Budidaya, penelitian dan pengembangan sorgum masih sangat terbatas, hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi tentang (benih unggul, kegunaan sorgum dan budidaya serta cara bercocok tanam sorgum yang baik dan benar). Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan informasi dan disebarluaskan kepada masyarakat, pengusaha dan ilmuwan di Indonesia.
Krisis energi di beberapa negara dan semakin berkurangnya jumlah cadangan bahan bakar fosil dalam perut bumi membuka peluang pemanfaatan tanaman sebagai bahan bakar nabati. Segala macam tanaman perlu digali, diteliti dan dikembangkan untuk menjadi sumber bionenergi yang berkualitas bagi masyarakat dunia terutama Indonesia. Sorgum adalah salah satu alternatif tanaman untuk dikembangkan, karena memiliki daya adaptasi luas, produktivitas tinggi, perlu input relatif lebih sedikit, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman, serta lebih toleran terhadap kondisi lahan marjinal (kekeringan, salinitas dan lahan masam).
Upaya penelitian & pengembangan sorgum dilakukan oleh Batan melalui kerjasama dengan beberapa Perguruan Tinggi, Dinas Pertanian dan Perusahaan Swasta serta didukung International Atomic Energy Agency(IAEA) melalui Technical Co-operation Project (TC Project INS/5/030) dan Regional Co-operation Agreement Project (RCA Project RAS/5/045), termasuk dalam program Riset Insentif Terapan kementerian RISTEK untuk tahun anggaran 2007-2009.
Kelompok Pemuliaan, Bidang Pertanian di PATIR-BATAN melakukan penelitian pemuliaan tanaman dengan menggunakan teknik mutasi. Tujuannya adalah untuk memperbaiki sifat-sifat tanaman agar lebih baik dibandingkan induk tanaman. Penelitian selama ini telah menghasilkan dan melepas varietas unggul nasional seperti Padi, Kedelai dan Kacang hijau. Khusus sorgum, penelitian difokuskan pada perbaikan plasmanutfah yang tersedia dengan menggunakan sinar radiasi gamma bersumber Cobalt-60. Tujuannya yaitu untuk memperoleh tanaman yang memiliki sifat lebih unggul sesuai kriteria yang dikehendaki. Secara agronomi, 10 galur harapan telah dihasilkan diantaranya memiliki sifat seperti: produksi tinggi, tahan kekeringan, tahan hama penyakit dan berbiji putih bening.
PENDAHULUAN
Dengan adanya krisis energi di beberapa negara dan semakin berkurangnya jumlah cadangan bahan bakar fosil dalam perut bumi, maka untuk menggantikan energi tersebut adalah pemanfaatkan sumber bioenergi dari tanaman. Segala macam sumber bioenergi tanaman perlu digali, diteliti dan dikembangkan untuk menjadi sumber bionenergi bagi masyarakat dunia terutama. Indonesia. Sorgum adalah salah satu alternatif, karena memiliki daya adaptasi luas, produktivitas tinggi, perlu input relatif lebih sedikit, tahan terhadap hama dan penyakit tanaman, serta lebih toleran terhadap kondisi lahan marjinal (kekeringan, salinitas dan lahan masam)1.
Di Indonesia memiliki areal lahan yang sangat luas, baik pada wilayah beriklim basah seperti: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua maupun wilayah beriklim kering (Nusa Tenggara, Sulawesi Tenggara, sebagian Sumatera dan Jawa). Total lahan kering di Indonesia diperkirakan seluas 143.9 juta hektar. Dari luasan tersebut, 31.5 juta hektar berupa lahan kering dengan topografi yang datar berombak (kemiringan lereng < 8%) dimana layak untuk dibangun perkebunan sorgum2.
Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman serelia biji-bijian termasuk famili Graminaea atau rerumputan. Di dunia luas tanam menempati urutan ke empat setelah gandum, jagung dan padi3 Di Indonesia sorgum telah lama dikenal oleh petani khususnya di Jawa, NTB dan NTT, biasa ditanam oleh petani sebagai tanaman sela atau tumpang sari dengan tanaman lainnya. Budidaya, penelitian dan pengembangan tanaman sorgum di Indonesia masih sangat terbatas, hal ini disebabkan karena kurangnya informasi tentang (benih unggul, pemanfaatan sorgum dan budidaya serta cara bercocok tanam sorgum yang baik dan benar).
Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melakukan banyak penelitian pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi dan melepas varietas unggul seperti padi, kedelai dan kacang hijau4. Khusus sorgum, penelitian difokuskan pada perbaikan plasmanutfah yang tersedia menggunakan sinar radiasi gamma bersumber Cobalt-60 bertujuan tanaman memiliki sifat lebih unggul sesuai kriteria yang dikehendaki. Secara agronomi, 10 galur harapan telah dihasilkan diantaranya memiliki sifat seperti: produksi tinggi, tahan kekeringan, dan berbiji putih bening (Gambar 1 dan 2).
Up
|